Mekanisme Evolusi dan Spesiasi

 

Mekanisme evolusi dan spesiasi

 

Standar Kompetensi    :

 

4. Memahami teori evaluasi sertaimplikasinyapada salingtemas.

 

Kompetensi Dasar        :

 

4. 1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusiBiologi.

 

 

 

Materi Pokok      : Mekanisme Evolusi dan Spesiasi

 

 

 

 

 

Eksplorasi

 

Evolusi menunjukkan perubahan makhluk hidup secara bertahap dalam jangka waktu yang lama dan perlahan-lahan yang terjadi dari generasi ke generasi. Mekanisme evolusi berdasarkan tempat terjadinya evolusi. Pertama, evolusi tidak terjadi di dalam individu. Contohnya, kalaupun manusia berasal dari makhluk sebelum manusia (katakanlah sejenis kera), hendaknya jangan dibayangkan bahwa individu kera berangsur-angsur berubah menjadi individu manusia. Kedua, evolusi terjadi di dalam populasi. Pada peristiwa evolusi terjadi estafet pewarisan sifat orang tua kepada anak melalui ratusan bahkan ribuan generasi populasi yang berbeda. Populasi itulah yang merupakan tempat terjadinya perubahan evolusi.

 

Suatu individu tidak dapat mengalami evolusi, hanyalah suatu populasi  yang dapat mengalami hal tersebut . komposisi genetik  dari suatu individu  sudah ditentukan semenjak terjadinya fertilisasi, yakni persatuan antara spermatozoid dengan sel sel telur. Kebanyakan dari perubahan sepanjang hidupnya ialah suatu perubahan  dialam eksperesi dari potensi pertumbuahan yang terkandung didalam gen. Didalam populasi, baik komposisi genetik  maupun dari potensi pertumbuhan dapat berubah. Perubahan komposisis genetik populasi adalah evolusi.

 

Sub Materi         : Mekanisme Evolusi

 

Pengenalan konsep

 

Evolusi  berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasiorganisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

 

A.    Variasi genetis sebagai bahan dasar evolusi

 

Dalam populasi terdiri dari sejumlah individu tetapi tidak ada dua individu yang serupa. Perbedaan ini akan tampak dengan nyata atau tidak nyata. Jika terjadi suatu seleksi untuk menentukan beberapa varian dan seleksi menguntungkan untuk varian lain yang lain di dalam populasi, maka komposisi itu dapat berubah dengan berjalannya waktu sebab sifat populasi itu ditentukan oleh individu yang ada di dalamnya.

 

Variasi genetik dalam populasi yang merupakan gambar dari adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan. Variasi genetik adalah bahan dasar dari perubahan adaptif. Suatu populasi terdiri dari suatu sejumlah individu. Dengan suatu perkecualian , maka  tidak ada dua individu  yang serupa. Pada populasi manusia dapat kita lihat dengan muda adanya perbedaan- perbedaan individu : misalnya ciri-ciri anatomi, fisiologi dan kelakuan  yang khusus. Hal ini terjadi pada binatang bersel satu sampai dengan ikan paus. Dengan demikian, populasi terdiri dari sejumlah individu yang memiliki sifat penting tetapi berbeda satu sama lain didalam berbagai hal.

 

Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika ini. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.

 

Variasi berasal dari mutasibahan genetika, migrasi antar populasi (aliran gen), dan perubahan susunan gen melalui reproduksi seksual. Variasi juga datang dari tukar ganti gen antara spesies yang berbeda: contohnya melalui transfer gen horizontal pada bakteria dan hibridisasi pada tanaman.Walaupun terdapat variasi yang terjadi secara terus menerus melalui proses-proses ini. Kebanyakangenom spesies adalah identik pada seluruh individu spesies tersebut. Namun, bahkan perubahan kecil pada genotipe dapat mengakibatkan perubahan yang dramatis pada fenotipenya. Misalnya simpanse dan manusia hanya berbeda pada 5% genomnya.

 

Perbedaan- perbedaan diatas dapat kita lihat dengan nyata dan dapat pula sangat samar- samar. Dengan demikian, jika terjadi suatu seleksi  yang menentang beberapa varian dan seleksi menguntungkan untuk varian lain didalam suatu populasi. Komposisi kesehatan dari populasi itu dapat berubah dengan berjalannya waktu, sebab sifat dari populasi itu ditentukan oleh induvidu  didalamnya.

 

B. Mutasi sebagai bahan dasar evolusi

 

“Mutasi diberikan kepada semua proses ini “ yang menghasilkan perubahan keturunan (Simpson, 1957).Setiap urutan DNA secara normal tidak akan berubah saat bereplikasi. Namun, beberapa hal dapat menyebabkan urut-urutan DNA itu berubah. Perubahan itu disebut juga dengan mutasi. Widodo (2003) menyebutkan bahwa mutasi merupakan kesalahan di dalam replikasi atau perbaikan yang dapat memunculkan urutan (sequence) yang baru. Lebih lanjut Campbell (2002) mengatakan bahwa mutasi adalah perubahan materi genetik suatu sel atau virus.

 

Dari kutipan-kutipan tersebut di atas bahwa mutasi diartikan sebagai perubahan faktor keturunan atau sifat keturunan (gen) dan perubahan bersifat fisiokimiawi. Istilah dan teori mengenai mutasi tertuang dalam buku “The Mutation Theori” tahun 1901, ia melakukan percobaan pada bunga pukul empat, Oenothera lamarckiana. Ia sarjana botani Belanda, dan merupakan salah satu orang yang menggali kembali Hukum Mendel yang terpendam. Hugo de Vries meneliti mutasi pada masa itu dengan melihat fenotip yang berubah dari biasa. Katanya mutasi jarang terjadi di alam. Tetapi jika terjadi, sifat berubah diwariskan terus ke generasi generasi berikutnya. Ia membuat batasan tentang variasi. Ada dua jenis variasi, yakni variasi genetis dan variasi lingkungan. Variasi genetis karena perbedaan perpasangan alel; bersifat herediter, konstan, dan diwariskan pada keturunannya. Variasi lingkungan terjadi karena perbedaan faktor lingkungan; seperti nutrisi, suhu, bantuan air, kelembaban, dan lainn sebagainya. Variasi lingkungan tidak bersifat herediter dan tidak konstan.

 

Mutasi merupakan sumber variasi di dalam evolusi.( Widodo, dkk.,  2003) menyebutkan ada empat aspek dalam mutasi, yaitu mekanisme molekuler yang bertanggung jawab untuk terjadinya mutasi, efek setiap jenis mutasi terhadap materi genetik dan produknya, atribut sementara atau ruang mutasi, dan keacakan mutasi.

 

  1. 1.        Macam-macam Mutasi

 

Ada bermacam-macam mutasi yang dikenal sampai saat ini. Berikut adalah macam-macam mutasi yang didasarkan pada dasar penggolongan tertentu menurut Widodo(2003).

 

  1. a.        Berdasarkan tempat terjadinya

 

1)        Mutasi kecil( point mutation)

 

Mutasi kecil adalah perubahan yang terjadi pada susunan molekul (ADN) atau gen. Lokus gen sendiri tetap. Mutasi jenis ini  yang menimbulkan perubahan alel. Mutasi gen diartikan sebagai suatu perubahan fisiokimiawi gen. Perubahan fisiokimiawi gen yang terjadi antara lain dapat  berupa perubahan atau pergantian pasangan basa. Misalnya pasangan A-T diganti menjadi G-C: peristiwa semacam ini antara lain disebabkan karena terjadi satu basa purin ataupun pirimidin oleh senyawa lain yang analog semacam zaguanin atau bromouracil C-G. Sebagai akibat peristiwa lain.

 

2)        Mutasi besar (gross mutation)

 

Mutasi besar adalah perubahan yang terjadi pada stuktur dari kromosom . Istilah khusus mutasi kromosom  yakni aberasi. Sehingga untuk selanjutnya istilah aberasi dipakai untuk mutasi kromosom, sedangkan istilah mutasi khusus untuk mutasi gen saja.

 

Gambar 3.1 Jenis- jenis Mutasi Kromosom (Sumber Ridley, 1996 : 27) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. b.        Berdasarkan macam sel yang mengalamimutasi

 

1)        Mutasi somatis (mutasi vegetatif)

 

Mutasi somatis adalah mutasi yang terjadi pada sel soma, bila perubahan sel somatis demikian besar sel-sel akan mati. Bila perubahan sel somatis dapat bertahan hidup memiliki kelainan atau tak berfungsi secara normal. Bila sel somatis tidak tidak meliputi daerah  yang luas, yang kurang penting maka tidak membahayakan. Bila perubahan sel itu terjadi ketika sel somatis sedang giat membelah seperti dalam embrio dapat mengakibatkan karakter abnormal waktu lahir. Makin muda jaringan yang mengalami perubahan genetis makin luas akibat abnormalan yang ditimbulkannya sebaliknya makin dewasa jaringan itu ketika mengalami keabnormalan dan dapat ditolerir.

 

Dalam bidang pertanian mutasi vegetatif banyak dipakai untuk meninggikan produksi dan mutu, seperti terhadap apel, anggur dan jeruk. Dibuat perubahan induksi pada suatu cabang pohon dewasa (misalnya dengan colchicine). Lalu cabang distek atau dicangkok , dan dibiakkan secara vegetatif pula. Sedangkan secara alamiah perubahan vegetatif pada tumbuhan dapat menimbulkan beraneka warna (belang) pada endosperm (biji), daun dan mahkota bunga. Misalnya pada ercis dan bunga pukul 4.

 

2)        Mutasi germinal (mutasi gametis/ generatif)

 

Mutasi germinal adalah mutasi  yang terjadi sel germinal (terdapat didalam gonad). Hal ini terjadi terdapat pada mahkluk hidup bersel banyak dan bukan yang bersel satu. Atau strukturnya yang lebih sederhana. Bila perubahan berlangsung pada gamet. maka akibat  yang ditimbulkan begitu hebat dan gametpun segera mati. Kadang menyebabkan gamet tidak mampu melakukan pembuahan dengan wajar. Oleh karena itu tak diteruskan pada keturunananya. Tetapi bila perubahan tidak begitu hebat dan gamet dapat melakukan pembuahan, terjadi generasi baru yang menerima peruahan bahan genetik tersebut.

 

  1. c.         Berdasarkan faktor penyebab mutasi

 

1)        Mutasi alami (spontan)

 

Mutasi alam adalah mutasi yang terjadi secara alami (tanpa dibuat dan disengaja manusia). Penyebab dari mutasi alamiah antara lain:Sinar kosmis, batuan radioaktif, sinar ultraviolet matahari. Penyebab mutasi berasal dari sesuatu yang tidak jelas dalam metabolisme. Kekeliruandalam sintesis bahan genetik, dan radiasi ionisasi internal dari bahan radioaktif yang mungkin terkandung dalam jaringan (lewat makanan atau minuman yang terkena pencemaran zat radioaktif. Sinar kosmis berasal dari angkasa luar, meradiasi bumi dengan partikel (butiran) berenergi tinggi, yakni proton, positron, (bagian jumlah perubahan spontan).

 

2)        Mutasi buatan

 

Mutasi spontanmerupakan mutasi yang sengaja dibuat oleh manusia, yang biasa diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu. Misalnya dibidang budidaya, perakitan bibit dan lain-lain. Usaha-usaha manusia dalam perubahan genetik dalam bentuk bahan makanan antara lain: pemakaian bahan radioaktif untuk diagnosis, terapi, deteksi, sterelisasi dan pengawetan bahan makanan, penggunaan senjata nuklir, roket, televisi, reaktor yang menggunakan bahan bakar radioaktif.

 

Mutasi buatan tidak selalu berakibat buruk. Banyak sekali jasa bahan radioaktif terhadap kesejahteraan hidup manusia. Terutama mengembangkan keturunan baru tanaman. Perubahan mutasi buatan yang dilakukan pada gandum, buncis, tomat, ternyata dapat meningkatkan mutunya. banyak tanaman panen (padi jagung gandum) yang dikembangkan sehingga tahan terhadap suatu jenis hama.

 

  1. Berdasarkan jumlah faktor keturunan

 

1)        Mutasi bertahap(mutasi mikro)

 

Mutasi mikro adalah mutasi yang terjadi atas satu atau sekelompok kecil faktor keturunan.

 

2)        Mutasi lompatan (mutasi makro)

 

Mutasi makro merupakan mutasi yang terjadi atas sejumlah besar atau mungkin seluruh faktor keturunan. Ruang lingkup mekanisme evolusi, terdapat dua macam pendapat tentang dampak perubahan yang efektif supaya evolusi mahkluk hidup dapat berlangsung, pendapat pertama, mengatakan bahwa penyebab variasi ( penyebab perubahan) yang lebih efektif adalah perubahan bertahap.

 

Dalam kurun waktu yang cukup lama sedikit demi sedikit akan terjadi akumulasi demikian banyak variasi  yang mengarah pada timbulnya kelompok- kelompok baru. Kelompok baru tersebut yang dapat ditinjau dari sudut tinjauan tingkat takson tertentu mungkin sudah berbeda dengan sebelumnya. Berhubung dengan yang dikatakandi atas bahwa mutasi lompatan, skala perubahan adalah demikian besar sehingga turunan yang mewarisi banyak ciri yang sekaligus berubah, relatif tidak beradaptasi.

 

  1. Berdasarkan manfaat bagi individu ataupopulasi yang mengalami

 

1)        Mutasi yang merugikan

 

Mutasi yang merugikan adalah mutasi yang berakibat timbulnya ciri dan kemampuan yang kurang atau tidak adaptip pada individu (populasi)

 

2)        Mutasi yang menguntungkan

 

Mutasi yang menguntungkan adalah mutasi yang berakibat timbulnya ciri dan kemampuan yang semakin adaptip pada individu (populasi), diantara kedua mutasi itu, yang paling banyak terjadi adalah mutasi yang merugikan: akan tetapi dalam ruang lingkup mekanisme evolusi, dampak perubahan karena mutasi efektif  adalah mutasi  yang menguntungkan

 

  1. f.         Berdasarkan panjang urutan DNA yang dipengaruhi oleh mutasi

 

1)        Mutasi titik

 

Mutasi titik merupakan mutasi yang terjadi pada satu nukleotida tunggal.

 

 

Gambar 3.2:  Mutasi titik(a) mutasi diam(b) mutasi salah arti(c) mutasi tanpa arti (Sumber: Anonim, 2003)

 

2)        Mutasi segmental

 

Mutasi ini terjadi pada beberapa nukleotida (Widodo, 2003).

 

  1. 2.        Penyebab mutasi

 

Faktor- faktor yang menjadipenyebab terjadinya mutasi adalah demikian banyak aspek variabel faktor lingkungan. Faktor- faktor tersebut dikenal sebagai mutagen. Pada umumnya faktor- faktor lingkungan penyebab mutasi (mutasi) dibagi menjadi:

 

  1. Faktor fisika (radiasi)

 

Agen mutagenik dari faktor fisika brupa radiasi. Radiasi yang bersifat mutagenik antara lain berasal dari sinar kosmis, sinar ultraviolet, sinar gamma, sinar –X, partikel beta, pancaran netron ion- ion berat, dan sina- sinar lain yang mempunyai daya ionisasi.

 

Radiasi dipancarkan oleh bahan yang bersifat radioaktif. Suatu zat radioaktif dapat berubah secara spontan menjadi zat lain yang mengeluarkan radiasi. Ada radiasi yang menimbulkan ionisasi ada yang tidak. Radiasi yang menimbulkan ionisasi dapat menembus bahan, termasuk jaringan hidup, lewat sel-sel dan membuat ionisasi molekul zat dalam sel, sehingga zat- zat itu tidak berfungsi normal atau bahkan menjadi rusak. Sinar tampak gelombang radio dan panas dari matahari atau api, juga mem,bentuk radiasi, tetapi tidak merusak.

 

  1. Faktor kimia

 

Banyak zat kimia bersifat mutagenik. Zat- zat tersebut terdiri dari Pestisida: (1) DDT, insektisida dipertanian dan rumah tangga; (2) DDVP, insektisida, fumigam, helminteik ternak; (3) Aziridine, dipakai pada industri tekstil, kayu dan kertas untuk membasmi lalat rumah, mutagen pada tawon, mencit, neurospora, E, coli dan bakteriofage T4; (4) TEM, dipakai dalam teskstil dan medis (agen antineoplastik). Membasmi lalat rumah.mutagen pada mencit dan serangga, jamur, aberasi pada memcit, allium e coli dan lekosit.Industri: (1) Formadehid. Zat ini digunakan dalam pabrik resin, tekstil, kertas dan pupuk, disenfektan benih, dan fungisida, anti pai , anti kusut pada tekstil . banyak dijumpai pada asap tembakau, asap mobil, mesin serta buangan pabrik tekstil. Mutagen pada drosophila, neuspora dan E, coli;(2) Glycidol. Zat yang digunakan untuk membuat zat kimia yang lain seperti, eter, ester, amin untuk farmasi, dan tekstil bersifat antibakteri dan antijamur pada makanan, mutagen pada drosophila, neuspora, aberasi dan jaringan mencit; (3) DEB (butadiene deipoxide), mencegah mikroba, untuk tekstil dan farmasi, mutagen pada drosophila, neuspora dan E, coli  . salmonella, penicillium, lalat rumah ragi, jagung, tomat dan mamalia. Aberasi pada allium, drosophila dan mamalia.Makanan dan minuman: (1) Caffein. Banyak didapatkan pada minuman, kopi, teh, cokelat, dan limun yang mengandung cola. Pada bidang medis untuk antihistamin dan obat pusing, pengembang pembuluh darah, koroner. Mutagen lemah pada drosophila, mutagen letal adan aberasi pada bakteri, bakteriofage, dan kultur sel orang; (2) Siklamat dan sikloheksilamin. Banyak dipakai untuk penyedap makanan dan minuman, aberasi secara invitro pada orang dan tikus; (3) Natriun nitrit dan asam nitrit zat ini digunakan mengawetkan daging, ikan dan keju, mutagen pada bakteri dan jamurdan virus: menghalangi replikasi ADN.Obat:(1) Siklofosfamid. Pelawan berbagai jenis tumor. Toragen pada tikus, mutagen pada drosophila, mencit. Aberasi pada kultur jaringan orang; (2) Metil di-kloro etil amin. Banyak digunakan diklinik. Mutagen pada mencit, drosophila, aberasi pada Allium; (3) Antibiotik . sebagian berasal dari streptomyces, seperti mitomysin C, azaserine, streptonigrin, phleomycin. Anti neoplasma. Penghalang replikasi DNA. Mutagen pada drosophila. Aberasi pada kultur lekosit orang; (4) Aminopterin 4- aminoflic dan methoteraxate. Kedua zat antagonis terhadap asam folat. Banyak dipakai  pengobatan kanker, seperti leukimia, dan choriocarcinoma, aberasi pada kultur lekosit.

 

  1. Faktor biologi

 

            Lebihdari 20 macam virus penyebab kerusakan kromosom. Misalnya virus hepatitis menimbulkan aberasi pada darah dan sumsum tulang. Virus campak, demam kuning, dan cacar juga dapat menimbulkan aberasi.

 

  1. 3.        Akibat mutasi

 

            Mutasi yang merupakan suatu peristiwa yang umum terjadi. Diperkirakan selalu ada 1 mutasi per 10.000-1.000.000 mikroorganisme atau rata-rata sekitar 1: 100.000 sel. Sedangkan jumlah gen pada suatu organisme dapat mencapai 10.000.  Akibat mutasi selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

a)        Mutasi yang dapat mengubah struktur DNA, tetapi tidak mengubah produk yang dihasilkan. Seperti yang sudah kita ketahui, DNA merupakan sumber informasi genetik. DNA akan ditranslasi menjadi asam amino. Ada asam amino yang dikode oleh satu kode genetik, tetap ada yang dikode oleh lebih dari satu (hingga enam) kode genetic. Apabila mutasi terjadi pada suatu tempat pada DNA, tetapi kode yang berubah tetap mengkode asam amino yang sama, maka mutasi tersebut tidak berakibat apa-apa.

 

b)        Mutasi mengubah struktur DNA dan mengubah komposisi produk, tetapi tidak mengubah fungsi produk yang dihasilkan. Dalam hal ini perubahan produk, misalnya asam amino yang dihasilkan adalah lisin. Padahal kode genetic sebelum mutasi terjadi adalah asam amino treonin. Akibatnya terjadi perubahan dalam rantai protein yang dihasilkan. Walaupun demikian, protein itu tidak mengalami perubahan fungsi.

 

c)        Mutasi terjadi dan perubahan fungsi sangat besar, namun terjadi pada sel somatic, jadi tidak diturunkan. Mutasi sel somatik jarang terlihat. Missal tahi lalat dianggap mutasi somatic yang tidak diturunkan.

 

d)       Mutasi yang bersifat fatal, sehingga organism tersebut mati, jadi tidak terlihat. Kalau mutasi semacam ini terjadi dalam tingkat sel, biasanya produksi akan diserap tubuh. Itupun kalau produk tersebut memang dibuat. Mutasi yang bersifat fatal dikenal dengan gen letal. Banyak gen letal yang diketahui, misalnya kebutaan (tidak semuanya), hemophilia. Hanya berkat ilmu kedokteran, manusia bisa bertahan. Apabila hal ini terjadi pada hewan, maka mereka akan segera mati, karena tidak dapat mempertahankan diri dari predatornya.

 

e)        Mutasi “menguntungkan”. Contoh mutasi “menguntungkan” sangat banyak dan tidak perlu dijelaskan. Namun, mutasi yang disebut menguntungkan dapat dilihat dari segi manusia. Meskipun bagi organisme lain hal demikian dapat berarti sebaliknya. Misalnya mutan ayam broiler atau sapi pedaging menguntungkan dari segi manusia, tetapi bagi hewan tersebut tidak demikian, karena dalam segi lain lebih lemah, lamban, sehingga lebih mudah dimangsa predatornya.

 

 

 

  1. C.      Hukum Hardy-Weinberg

 

Landasan studi genetika populasi yang berkaitan dengan frekuensi gen dalam suatu populasi yang besar adalah Hukum Hardy-Weinberg. Hukum tersebut dikemukakan pada tahun 1908 oleh Godfrey Harold Hardy (ahli matematika Inggris) dan Wilheim Weinberg (seorang dokter Jerman) secara terpisah. Hukum tersebut menyatakan bahwa, dalam keadaan yang ideal, maka frekuensi gen/genotip dari generasi ke generasi selalu konstan (Satidjah, 2005)

 

Apabila  perbandingan fenotif dalam suatu populasi tidak berubah dari generasi ke generasi, dapat dinyatakan bahwa frekuensi gena populasi tersebut dalam keadaan seimbang. Dengan kata lain proses evolusi dapat diartikan sebagai suatu perubahan komulatif frekuensi alel sejalan dengan waktu. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi gen dari generasi ke generasi cenderung konstan selama tidak ada mutasi gen, rekombinasi gen, hilangnya gen (=genetif drift) maupun alur gen (=gen flow). Darwin menambahkan untuk terjadinya perubahan frekuensi gen terdapat peranan lingkungan. Melalui proses seleksi alam arah evolusi ditentukan.

 

Untuk memahami mekanisme yang menyebabkan sebuah populasi berevolusi, adalah sangat berguna untuk memperhatikan kondisi-kondisi apa saja yang diperlukan oleh suatu populasi yang tidak berevolusi.Teorema Hardy-Weinberg menjelaskan suatu populasi yang tidak berevolusi. Menurut teorema Hardy-Weinberg, frekuensi alel dalam suatu populasi akan tetap konstan jika reproduksi seksual adalah satu-satunya proses yang mempengaruhi kumpulan gen atau frekuensi alel dan genotip dalam kumpulan gen (gen pool). Suatu populasi tetap konstan selama beberapa generasi dengan kondisi tertentu.  Perubahan dalam suatu kumpulan gen adalah evolusi dalam skala terkecil, maka keadaan ini secara spesifik disebut mikroevolusi (Campbell, 2003).

 

Kondisi yang diperlukan untuk mempertahankan kesetimbangan Hardy-Weinberg adalah sebagai berikut :

 

  1. Mutasi tidak terjadi, atau mutasi yang menguntungkan sama jumlahnya dengan mutasi yang tidak menguntungkan

 

a)        Telah diketahui bahwa mutasi yang terjadi tidak selalu mengakibatkan perubahan dalam struktur atau fungsi. Kejadian mutasi meskipun tidak terlihat, mungkin saja ikut berperan. Misalnya protein yang termutasi meskipun tidak mengubah fungsi, mungkin saja akan menunjukkan pengaruh apabila keadaan lingkungan berubah. Yang sudah dapat dipastikan adalah bahwa frekuensi gen dalam populasi akan berubah, karena ada satu gen yang berubah.

 

b)         Kemungkinan ada mutasi yang menguntungkan sama banyaknya dengan mutasi yang merugikan tidak mungkin tercapai, karena pada umumnya mutasi yang terjadi bersifat merugikan.

 

  1. Semua anggota populasi tertentu mempunyai kesempatan yang sama untuk mengawini sesama anggota populasinya (perkawinan acak atau “Panmiksi”).

 

a)        Perkawinan acak hanya mungkin terjadi di daerah yang secara ekologi adalah benar-benar sama. Biasanya, perkawinan terjadi tidak secara acak.

 

b)        Perkawinan pada umumnya terjadi dengan individu sepopulasi, karena kemungkinan untuk bertemu lebih besar. Meskipun perkawinan terjadi antar individu sepopulasi, umumnya ditemukan adanya suatu mekanisme khusus yang berperan dalam hal ini, misalnya berupa naluri, dan tingkah laku tertentu (etiologi).

 

  1. Tidak terjadi imigrasi atau emigrasi, atau jumlah individu yang berimigrasi adalah sama dengan individu yang beremigrasi.

 

a)        Imigrasi atau emigrasi akan mengubah frekuensi suatu gen dalam populasi.

 

b)        Pengaruh imigrasi atau emigrasi berbanding terbalik dengan ukuran populasi asal atau ukuran populasi yang akan dibentuk.

 

c)        Lebih kecil ukuran suatu populasi asal, maka perubahan frekuensi alel akan lebih besar bagi populasi tersebut.

 

d)       Bagi suatu daerah terisolasi, misalnya suatu pulau, imigrasi suatu spesies ditentukan oleh alel-alel yang ikut dibawa ke daerah tersebut. Karena jumlah individu yang berhasil mencapai dan mengkolonisasi pulau itu dari tidak ada menjadi suatu populasi yang stabil, maka biasanya suatu alel yang tidak berarti frekuensinya dalam populasi asal, akan menjadi penting sekali bagi populasi kecil yang baru dibentuk. Hal ini sering disebut sebagai genetic drift atau founder effect (efek pembentuk populasi) atau sering disamakan juga dengan efek leher botol (bottle neck effect). Di Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, mekanisme seperti ini sering sekali ditemukan.

 

e)        Spesiasi atau subspesiasi (proses pembentukan spesies atau sub-spesies) dapat diterangkan dengan mekanisme di atas, meskipun masih terdapat banyak aspek lain yang turut menunjang.

 

  1. Semua alel mempunyai kemungkinan yang sama untuk berada dalam populasi, tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Dengan kata lain, seleksi alam tidak terjadi.

 

a)        Alel-alel yang berlainan mempunyai tingkat keberhasilan hidup yang berlainan

 

b)        Nilai keberhasilan hidup biasanya dinyatakan dalam perbandingan dengan alel normalnya

 

c)        Nilai keberhasilan hidup dapat berubah-ubah bergantung kepada lingkungan hidupnya. Misalnya, mutan vestigial di alam tidak mungkin dapat bertahan hidup pada lingkungan yang berubah sehingga kita beri nilai keberhasilan hidup sama dengan 0 (nol). Namun, di laboratorium mutan vestigial dapat bertahan hidup meskipun mereka lebih lemah dari bentuk normal. Dengan demikian nilai keberhasilan hidup mutan vestigial di laboratorium tidak mungkin sama dengan 0 (nol).

 

  1. Jumlah populasi tetap, atau jumlah individu yang mati sama dengan jumlah individu yang lahir.

 

a)      Secara teoritis keadaan populasi yang tetap (stabil) tidak mungkin terjadi meskipun di suatu populasi yang terisolasi.

 

b)      Selain faktor lingkungan yang senantiasa berubah-ubah sepanjang tahun, hal lain yang juga terjadi yaitu selalu ada kelahiran dan kematian.

 

c)      Hasil penelitian tertentu menemukan bahwa pada umumnya suatu populasi berubah-ubah mengikuti suatu siklus tertentu yang spesifik.

 

  1. Populasi berjumlah besar sehingga faktor kebetulan tidak terjadi atau dapat diabaikan.

 

a)        Populasi besar hanya mungkin terjadi pada serangga atau mikroba, namun tidak mungkin terjadi pada populasi hewan mamalia misalnya.

 

b)        Populasi yang besar erat kaitannya dengan resource (sumber) yang tersedia, baik

 

c)        sumber makanan maupun habitat yang cocok.

 

d)       Lebih besar suatu organisme, jumlah makanan dan tempat untuk hidup harus tersedia dalam jumlah yang lebih besar pula.

 

Berdasarkan penjelasan di atas, ternyata bahwa persyaratan untuk pemberlakukan rumus atau hukum Hardy-Weinberg hampir tidak pernah dapat dipenuhi.Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa evolusi itu terjadi.Rumus atau hukum ini hanya dapat dipenuhi pada satuan waktu yang sangat singkat.Artinya dalam waktu yang sangat singkat rumus dapat terpenuhi.Namun dalam jangka waktu tertentu saja, rumus ini tidak mungkin berlaku, karena ke-enam persyaratan tersebut di atas tidak mungkin terpenuhi sekaligus. Hanya persyaratan ke-tiga, emigrasi dan imigrasi saja yang mungkin dapat terpenuhi pada populasi di pulau terpencil atau pada organisme yang hanya dapat hidup di puncak gunung yang tinggi, inipun suatu perkecualian.

 

  1. D.      Spesiasi
  2. 1.        Definisi spesies

 

Spesies dalam bahasa latin berarti “jenis” atau “penampakan”. Spesies merupakan unit dasar untuk memahami biodiversitas. Menurut Waluyo (2005), spesies adalah suatu kelompok organisme yang hidup bersama di alam bebas, dapat mengadakan perkawinan secara bebas, dan dapat menghasilkan anak yang fertil dan bervitalitas sama dengan induknya.

 

Munculnya keanekaragaman konsep spesies ini dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar, alasan pertama adanya perbedaan pemahaman tentang spesiasi yang merupakan proses munculnya suatu spesies baru. Spesiasi bukan hanya menarik perhatian para ahli evolusi, tetapi juga telah memikat perhatian dari berbagai disiplin bidang biologi lainnya seperti morfologi, genetika, ekologi, fisiologi, paleontologi, biologi reproduksi, dan biologi tingkah laku. Alasan kedua adalah karena spesies merupakan hasil dari proses evolusi yang terus berjalan. Artinya bahwa konsep spesies yang dibuat berdasarkan proses spesiasi yang masih sebagian berjalan akan berbeda dengan konsep spesies yang dibuat ketika spesies itu benar-benar sudah sampai pada akhirnya. Selain itu, bermacam konsep spesies muncul karena tujuan klasifikasi yang berbeda-beda. Seperti misalnya untuk tujuan identifikasi yang dilakukan oleh ahli taksonomi tumbuhan seringkali digunakan konsep spesies fenetik, sedangkan untuk mengamati keragaman genetikyang diperlukan dalam bidang konservasi digunakan konsep spesies biologi.

 

Ernst Mayr pada tahun 1963 mendefinisikan konsep spesies biologis (Biological Species Concept/BSC) yang dapat diterima secara luas. Spesies menurut BSC adalah suatu populasi atau kelompok populasi alami yang secara aktual memiliki potensi dapat saling kawin (interbreeding) dan menghasilkan keturunan yang dapat hidup fertil, namun tidak dapat menghasilkan keturunan yang fertil jika kawin dengan spesies lain. Dengan kata lain, suatu spesies biologis adalah unit populasi terbesar di mana pertukaran genetik mungkin terjadi dan terisolasi secara genetik dari populasi kelompok lainnya.

 

Konsep ini didasarkan pada dua pandangan biologis yaitu reproduksi seksual meningkatkan keseragaman dalam gen pool melalui rekombinasi genetik dan jika dua kelompok populasi itu tidak dapat melakukan kawin silang maka di sana tidak terjadi aliran gen (gene flow) di dalam lungkang gen (gene pools). Ketidakmampuan interbreeding (perkawinan) akan memunculkan spesies yang berasal dari penggabungan bersama pada beberapa waktu berikut setelah kondisi telah mengalami perubahan. Jadi berdasarkan konsep ini, maka kriteria yang menentukan keberhasilan reproduksi seksual adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang fertil. Konsep spesies ini tidak berlaku untuk organisme aseksual dan hibridisasi antarspesies.

 

  1. 2.        Definisi spesiasi

 

Spesiasi adalah pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya dalam kerangka evolusi. Spesiasi dapat berlangsung cepat, dapat pula berlangsung lama hingga puluhan juta tahun. Setiap populasi terdiri atas kumpulan individu sejenis (satu spesies) dan menempati suatu lokasi yang sama. Karena suatu sebab, populasi dapat terpisah dan masing-masing mengembangkan adaptasinya sesuai dengan lingkungan baru. Dalam jangka waktu yang lama, populasi yang saling terpisah itu masing-masing berkembang menjadi spesies baru sehingga tidak dapat lagi mengadakan perkawinan yang menghasilkan keturunan fertil.

 

  1. 3.        Mekanisme Spesiasi

 

Spesiasi merupakan proses pembentukan spesies baru dan berbeda dari spesies sebelumnya melalui proses perkembangbiakan secara natural dalam kerangka evolusi. Spesiasi sangat terkait dengan evolusi, keduanya merupakan proses perubahan yang berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, secara gradual, perlahan tetapi pasti terjadi. Spesiasi lebih ditekankan pada perubahan yang terjadi pada populasi jenis tertentu.Kecepatan spesiasi maupun kepunahan sebagian tergantung pada ukuran kisaran geografis dari suatu daerah.Daerah yang luas cenderung meningkatkan kecepatan spesiasi dan menurunkan kecepatan kepunahan. Jenis yang terdapat di daerah yang luas akan mengalami spesiasi lebih cepat, sedangkan menurunnya luas area akan meningkatkan kepunahan suatu jenis, jadi menurunkan jumlah jenis yang akan mengalami spesiasi. (Widodo, 2007).

 

Spesiasi atau terbentuknya spesies baru dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan perubahan genetika (Campbell, 2003). Adapun proses spesiasi ini dapat berlangsung secara cepat atau lama hingga berjuta-juta tahun.Mekanisme isolasi merupakan proses pembentukan individu baru dengan batasan-batas tertentu. Faktor-faktor yang menjadi pembatas adalah habitat yang berbeda, iklim yang berbeda, gunung yang tinggi, pematangan sel kelamin yang tidak bersama. Mekanisme isolasi dibedakan menjadi tiga.

 

3.1    Mekanisme yang mencegah terbentuknya hibrida.

 

Penyebab tidak terbentuknya hibrida antara lain tidak dimungkinkannya adanya pembuahan karena sel sperma tidak dapat mencapai sel telur. Dalam hal ini harus dilakukan pembuahan dengan inseminasi buatan. Peristiwa ini dapat Anda temui pada tanaman tembakau. Kegagalan terbentuknya hibrid juga disebabkan karena embrio yang tidak dapat tumbuh, misalnya pada Rana pipiens.

 

3.2    Mekanisme yang mencegah terjadinya perkawinan.

 

Faktor-faktor yang menyebabkan gagal mengadakan perkawinan antara lain seperti berikut.

 

a)        pada spesies mengakibatkan dua spesies terpisah sehingga tidak dapat saling melakukan perkawinan Populasi terpisah secara fisik, misalnya dipisahkan gunung, laut, padang pasir, dan lain-lain. Individu yang spesiesnya sama apabila terpisah habitatnya dan memiliki lingkungan yang berbeda maka akan menghalangi terjadinya perkawinan secara alamiah.

 

b)        Mengalami iklim yang berbeda. Apabila pematangan sel kelamin dari dua individu tidak bersamaan maka hal ini menyebabkan gagal kawin secara alami. Misalnya pada tumbuhan Pinus radiata yang berbunga setiap bulan Februari dan Pinus muricata yang berbunga pada bulan April.

 

c)        Perbedaan perilaku.Perbedaan perilaku pada spesies mengakibatkan dua spesies terpisah sehingga tidak dapat saling melakukan perkawinan.

 

Terbentuknya spesies baru (spesiasi) dapat diakibatkan oleh adanya isolasi geografi, isolasi reproduksi, dan perubahan genetika.

 

  1. a.        Peran Isolasi Geografi

 

Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor awal dalam proses spesiasi adalah pemisahan geografis, karena selama populasi dari spesies yang sama masih dalam hubungan langsung maupun tidak langsung gene flow masih dapat terjadi, meskipun berbagai populasi di dalam sistem dapat menyimpang di dalam beberapa sifat sehingga menyebabkan variasi intraspesies. Hal serupa juga dikemukakan oleh Campbell dkk (2003) bahwa proses-proses geologis dapat memisahkan suatu populasi menjadi dua atau lebih terisolasi.

 

Suatu daerah pegunungan bisa muncul dan secara perlahan-lahan memisahkan populasi organisme yang hanya dapat menempati dataran rendah; suatu glasier yang yang bergeser secara perlahan-lahan bisa membagi suatu populasi; atau suatu danau besar bisa surut sampai terbentuk beberapa danau yang lebih kecil dengan populasi yang sekarang menjadi terisolasi. Jika populasi yang semula kontinyu dipisahkan oleh geografis sehingga terbentuk hambatan bagi penyebaran spesies, maka populasi yang demikian tidak akan lagi bertukar susunan gennya dan evolusinya berlangsung secara sendiri-sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua populasi tersebut akan makin berbeda sebab masing-masing menjalani evolusi dengan caranya masing-masing (Widodo, 2003).

 

Suatu penghalang (barier) adalah keadaaan fisis ekologis yang mencegah terjadinya perpindahan-perpindahan spesies tertentu melewati batas ini dan suatu barier suatu spesies belum tentu merupakan barier bagi spesies lain. Perubahan waktu yang terjadi pada isolasi geografis menyebabkan terjadinya isolasi reproduktif sehingga menghasilkan dua spesies yang berbeda seperti terlihat pada Gambar 2.1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.13 Waktu Mempengaruhi Spesiasi

 

(Sumber : Irwanto, 2012)

 

                                    

 

  1. b.        Peran Isolasi Reproduksi

 

Pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi karena adanya pencegahan gene flow antara dua sistem populasi yang berdekatan akibat faktor ekstrinsik (geografis). Setelah kedua populasi berbeda terjadi pengumpulan perbedaan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga dapat menjadi mekanisme isolasi instrinsik. Isolasi instrinsik dapat mencegah bercampurnya dua populasi atau mencegah interbreeding jika kedua populasi tersebut berkumpul kembali setelah batas pemisahan tidak ada. Mekanisme isolasi intrinsik yang mungkin dapat timbul yaitu isolasi sebelum perkawinan dan isolasi sesudah perkawinan.

 

1)        Isolasi Sebelum Perkawinan (Pre-mating isolation/prezygotic barrier)

 

Isolasi sebelum perkawinan menghalangi perkawinan antara spesies atau merintangi pembuahan telur jika anggota-anggota spesies yang berbeda berusaha untuk saling mengawini. Isolasi ini terdiri dari:

 

a)        Isolasi Ekologi (ecological)

 

Dua sistem yang mula-mula dipisahkan oleh penghambat luar (eksternal barrier), suatu ketika mempunyai karakteristik yang khusus untuk berbagai keadaan lingkungan meskipun penghambat luar tersebut dihilangkan, keduanya tidak akan simpatrik. Setiap populasi tidak mampu hidup pada tempat dimana populasi lain berada, mereka dapat mengalami perubahan pada perbedaan-perbedaan genetik yang dapat tetap memisahkan mereka.

 

Contohnya pada pohon jenis Platanus occidentalis yang terdapat di bagian timur Amerika Serikat dan Platanus orientalis yang terdapat di timur Laut Tengah, kedua spesies ini dapat disilangkan dan menghasilkan hibrid yang kuat dan fertil. Kedua spesies ini terpisah tempat yang berbeda dan fertilisasi alami tidak mungkin terjadi (Waluyo, 2005).

 

b)        Isolasi Tingkah laku (Behavioral)

 

Tingkah laku berperan sangat penting dalam hal courtship (percumbuan) dan perkawinan (mating).Tingkah laku juga berperan pada perkawinan acak antar spesies yang berbeda sehingga perkawinan mendapat hambatan oleh terjadinya inkompatibilitas beberapa perilaku sebagai dasar bagi suksesnya perkawinan tersebut.Contohnya pada hewan jantan spesies tertentu memiliki pola perilaku yang spesifik dalam menarik, mendekati dan mengawini pasangannya.

 

Kegagalan perkawinan terjadi karena pasangan merasa asing dengan pola perilaku yang ditunjukkan oleh pasangannya sehingga terjadi penolakan. Selain sekuen perilaku yang spesifik seperti yang ditunjukkan oleh burung bower (Gambar 3.14) di mana hewan jantan harus mempersiapkan pelaminan yang penuh dengan aksesoris tertentu agar burung betina mau dikawini.

 

 

 

 

Gambar 3.14 Burung Bower jantan membuat sarang untuk menarik betina(Sumber : Irwanto, 2012)

 

 

 

  1. 2.        Isolasi Setelah Perkawinan (Post-mating isolation/Postzigotic barrier)

 

Hal ini terjadi jika sel sperma dari satu spesies membuahi ovum dari spesies yang lain, maka barier postzigot akan mencegah zigot hibrida itu untuk berkembang menjadi organisme dewasa yang bertahan hidup dan fertil. Mekanisme ini dapat terjadi melalui:

 

a)        Kematian zigot (zygotic mortality)

 

Sel telur yang telah dibuahi oleh sperma spesies lain (zigot hibrid) seringkali tidak mengalami perkembangan regular pada setiap stadianya, sehingga zigot tersebut mengalami abnormalitas dan tidak mencapai tahapan maturitas yang baik atau mengalami kematian pada stadia awal perkembangannya. Di antara banyak spesies katak yang termasuk dalam genus Rana, beberapa diantaranya hidup pada daerah dan habitat yang sama, dan kadang-kadang mereka bisa berhibridisasi. Akan tetapi keturunan yang dihasilkan umumnya tidak menyelesaikan perkembangannya dan akan mengalami kematian.

 

b)        Perusakan  hibrid (hybrid breakdown)

 

Pada beberapa kasus ketika spesies berbeda melakuakn kawin silang, keturunan hibrid generasi pertama dapat bertahan hidup dan fertil, tetapi ketika hibrid tersebut kawin satu sama lain atau dengan spesies induknya, keturunan generasi berikutnya akan menjadi lemah dan mandul. Sebagai contoh, spesies kapas yang berbeda dapat menghasilkan keturunan hibrid yang fertil, tetapi kerusakan terjadi pada generasi berikutnya ketika keturunan hibrid itu mati pada saat berbentuk biji atau tumbuh menjadi tumbuhan yang cacat dan lemah.

 

c)      Sterilitas hibrid

 

Hibridisasi pada beberapa spesies dapat menghasilkan keturunan yang sehat dan hidup normal akan tetapi hibrid tersebut mengalami sterilitas. Terjadinya sterilitas ini disebabkan oleh inkompatibilitas genetik yang nyata sehingga tidak dapat menurunkan keturunannya. Contoh hibrid yang steril sebagaimana yang terlihat pada Gambar 2.3. antara lain: mule (hibrid antara keledai dan kuda), cama (hibrid antara onta dan ilama), tiglon (hibrid anatara macan dan singa), zebroid (hibrid antara zebra dan kuda).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mule                                                              Cama

 

Gambar 3.14 Hewan Hasil Hibrid

 

(Sumber :Irwanto, 2012)

 

  1. 4.        Model-model Spesiasi

 

Barier genetik terhadap interbreeding muncul melalui banyak jalan atau mekanisme. Isolasi geografis pada proses spesiasi dapat terjadi dan peristiwa genetis memerlukan isolasi reproduktif, keduanya saling terkait. Model spesiasi faktor genetik tertentu memerlukan isolasi geografis. Contohnya isolasi reproduktif terhadap kemandulan bastar (hybrid sterility) atau oleh perbedaan dalam perilaku kawin, secara kumulatif merupakan efek beberapa lokus.

 

Genotip AABBCC dan aabbcc secara reproduktif terisolasi, tetapi bukan dari genotip lainnya seperti Aabbcc. Umumnya aabbcc akan muncul dan membentuk suatu kesatuan secara reproduktif terisolasi di dalam suatu populasi berkaitan dengan tetua AABBCC, karena sejumlah genotip intermediet akan membentuk suatu jembatan reproduktif antar mereka. Alel a, b, c, akan terseleksi jika mereka berperan untuk kemandulan bastar dan karenanya kondisi heterozigot  sangat tidak menguntungkan. Widodo dkk (2003) mengemukakan bahwa spesiasi pada tingkat populasi terdiri dari beberapa model yaitu spesiasi allopatrik, spesiasi parapatrik (semigeografi), spesiasi peripatrik dan spesiasi simpatrik.

 

  1. a.        Spesiasi Alopatrik ( Allopatric Speciation)

 

Terjadinya spesiasi alopatrik banyak dibuktikan melalui studi variasi geografi. Spesies yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat menghalangi pertukaran gen antara spesies simpatrik. Populasi yang terpisah secara geografis dapat terisolasi oleh kemandulan atau perbedaan perilaku dibandingkan dengan populasi yang berdekatan.

 

Populasi yang terisolasi mungkin tidak dapat melakukan interbreeding jika mereka bertemu, karena bentuknya sangat menyimpang (divergent) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik tetapi tidak terjadi interbreeding. Spesiasi alopatrik merupakan mekanisme isolasi yang terjadi secara gradual, seperti yang terlihat pada Gambar 3.15.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.15. Skema Spesiasi Alopatrik  (Sumber: Stearns and Hoekstra, 2003)

 

Contoh spesiasi alopatrik lainnya adalah pembentukan spesies burung finch di Kepulauan Galapagos yang dikemukakan oleh Darwin. Menurut Darwin dalam Stearns and Hoekstra (2003) bahwa burung finch berasal dari satu nenek moyang burung yang sama sebagaimana terlihat pada Gambar 2.5. di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.16 Spesiasi Pada Burung Finch (sumber: Anonim, 2006)

 

 

 

  1. b.        Spesiasi parapatrik/ Semi geografik

 

Spesiasi Parapatrik merupakan proses spesiasi yang terjadi di daerah yang bersebelahan dengan daerah populasi moyangnya. Suatu spesies sering mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas, sehingga penyebarannya meliputi lebih dari satu macam habitat dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Karena ada perbedaan habitat maka, setiap populais mengalami seleksi alam yang berbeda. Dengan berjalannya waktu terbentuklah suatu populasi yang berbeda dan tidakmampu beriteraksi secara kawin, sehingga dianggap berbeda spesies pada daerah yang tetap bersebelahan.

 

Spesiasi ini juga terjadi karena adanya variasi  frekuensi kawin dalam suatu populasi yang menempati wilayah yang sama. Pada model ini, spesies induk tinggal di habitat yang kontinu tanpa ada isolasi geografi. Spesies baru terbentuk dari populasi yang berdekatan. Suatu populasi yang berada di dalam wilayah tertentu harus berusaha untuk beradaptasi dengan baik untuk menjamin kelangsungan hidupnya, dan usaha itu dimulai dengan memperluas daerah ke daerah lain yang masih berdekatan dengan daerah asalnya. Apabila di area yang baru ini terjadi seleksi, maka perubahan gen akan terakumulasi dan dua populasi akan berubah menjadi teradaptasikan dengan lingkungan barunya. Jika kemudian mereka berubah menjadi spesies lain (spesies yang berbeda), maka perbatasan ini akan diakui sebagai zona hibrid. Dengan demikian, dua populasi tersebut akan terpisah, namun secara geografis letaknya berdekatan sepanjang gradient lingkungan.

 

Contoh Anthoxanthum odoratum, yang dapat mengalami spesiasi parapatrik sebagai respon terhadap polusi logam terlokalisasi yang berasal dari pertambangan.Pada kasus ini, tanaman berevolusi menjadi resistan terhadap kadar logam yang tinggi dalam tanah. Seleksi keluar terhadap kawin campur dengan populasi tetua menghasilkan perubahan pada waktu pembungaan, menyebabkan isolasi reproduksi. Seleksi keluar terhadap hibrid antar dua populasi dapat menyebabkan “penguatan”, yang merupakan evolusi sifat yang mempromosikan perkawinan dalam spesies, serta peralihan karakter, yang terjadi ketika dua spesies menjadi lebih berbeda pada penampilannya.

 

 

 

 

Gambar 3.17Tumbuhan Anthoxanthum odoratumyang toleran terhadap logam berat

 

(Sumber : Irwanto, 2012)

 

 

 

  1. c.         Spesiasi Peripatrik

 

Spesiasi peripatrik merupakan proses spesiasi yang terjadi di daerah pinggir penyebaran spesies moyangnya. Suatu organisme memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap lingkungannya. Akibatnya beberapa jenis akan menempati daerah tertentu. Lebih jauh dari daerah pusat penyebaran, persyaratan hidupnya makin berbeda sehingga diperlukan suatu keanekaragaman yang khusus untuk dapat hidup dan berkembang biak.

 

Lebih jauh dari pusat penyebaran suatu jenis, makin berbeda keadaan lingkungan dan dengan demikian anggota spesies itu pun makin berbeda dengan  yang ada di pusat penyebaran. Di salah satu daerah di pinggir daerah penyebaran, akan ada perbedaan lingkungan yang menyeleksi populasi tersebut dengan ketat, sehingga komposisi keanekaragaman genetiknya akan menjadi sangat lain. Dengan demikian, interaksi antar populasi tersebut sangat terbatas. Dengan adanya isolasi gradual, maka selang waktu yang lama, populasi di daerah pinggir akan menjadi spesies tersendiri. (Syulasmi, 2007)

 

Populasi kecil lebih cepat mengalami spesiasi alopatrik dibandingkan dengan populasi besar karena hanyutan genetik dan seleksi alam dapat mengubah kumpulan gen yang lebih kecil dengan lebih cepat.

 

  1. d.        Spesiasi Simpatrik

 

Menurut Campbell, dkk (2003) dalam spesiasi simpatrik, spesies baru muncul di dalam lingkungan hidup populasi tetua; isolasi genetik berkembang dengan berbagai cara, tanpa adanya isolasi geografis. Model spesiasi simpatrik meliputi spesiasi gradual dan spontan. Sebagian besar model spesiasi simpatrik masih dalam kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan spesiasi poliploidi yang terjadi pada tumbuhan. Model spesiasi simpatrik ditunjukkan pada Gambar 2.7 berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.18 Skema Spesiasi Simpatrik(Sumber: Stearns and Hoekstra, 2003)

 

Hugo de Vries menyatakan bahwa spesiasi simpatrik dengan autopoliploidi yang terjadi pada tumbuhan bunga primrose (Oenothera lamarckiana) yang merupakan suatu spesies diploid dengan 14 kromosom. Di mana suatu saat  muncul varian baru yang tidak biasanya diantara tumbuhan itu dan bersifat tetraploid dengan 28 kromosom. Selanjutnya bahwa tumbuhan itu tidak mampu kawin dengan bunga mawar diploid, spesies baru itu kemudian dinamai Oenothera gigas. Mekanisme lain spesiasi adalah  alopoliploid yaitu kontribusi dua spesies yang berbeda terhadap suatu hibrid poliploid. Misalnya rumput Spartina anglica yang berasal dari hibridisasi Spartina maritima dengan Spartina alternaflora. Spesiasi simpatrik pada hewan contohnya serangga Rhagoletis sp.

 

Aplikasi konsep

 

Mekanisme evolusi dan spesiasi telah dijelaskan melalui tahap eksplorasi dan pengenalan konsep, agar pemahamanmu tentang Mekanisme evolusi dan spesiasi semakin jelas maka diskusikan dan  jawablah pertanyaan pada tahap aplikasi konsep di bawah ini!

 

  1. Jelaskan pengertian mutasi!
  2. Sebutkan dan jelaskan jenis mutasi berdasarkan jenis selnya!
  3. Jelaskan bagaimana kaitan antara hereditas, mutasi dan evolusi?
  4. Jelaskan fakta-fakta yang mendasari teori seleksi alam Darwin!
  5. Jelaskan dengan contoh keterkaitan sifat adaptif dengan seleksi alam!
  6. Dalam suatu populasi ditemukan kelompok perasa PTC sebesar 91%, sedangkan yang lainnya bukan perasa PTC. Bila bukan perasa PTC ditentukan oleh gen t yang resesif dan perasa PTC ditentukan gen T yang dominan, maka tentukan:
  7. Frekuensi gen t dan T.
  8. Frekuensi genotip TT:Tt:tt
    1. Persentase perasa PTC yang homozigot.
    2. Jumlah orang perasa PTC heterozigot.
  9. Jika jumlah orang albino di kota S, 10 jiwa dari jumlah penduduk 25.000 jiwa, maka hitunglah!
    1. Jumlah orang normal dominan!
    2. Jumlah orang yang normal carier!
    3. Jumlah penderita albino!
  10. Jelaskan apa yang dimaksud spesiasi?
  11. Sebutkan mekanisme isolasi (faktor pembatas) yang yang mempengaruhi spesiasi?
  12. Sebutkan model spesiasi beserta contohnya!

 

 

DOWNLOAD : MEKANISME EVOLUSI DAN SPESIASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: